
Duka Wasior belum sepenuhnya lenyap
Masih ada setitik nestapa menghadang
Peninggalan bumi yang sedang marah
Amuknya masih menyisakan pedih
Lalu Mentawai,
Pedih menyelimuti lagi
Setelah timur, kini barat
Bumiku merintih
Terjangan tsunami memporak-porandakannya
Kini Merapi,
Bumiku meraung
Pedih menyayat hati
Dukanya kini bukan milik barat atau pun timur
Semua berduka
Entah apa lagi petaka di depannya
Tak ada yang dapat meramalkannya
Pun kau atau aku,
Hanya Dia yang tahu
Jangan menangis saudaraku,
Bahu ini siap menjadi penyanggahmu
Tangan-tangan ini pun siap menggandengmu
Aku memang tak bisa menjamahmu lebih dekat, saudaraku
Namun ketahuilah hatiku bersamamu
Dukamu adalah dukaku
Sedihmu adalah sedihku
Air matamu adalah air mataku
Hidupmu memang bukan hidupku,
Tapi merasakan artinya hidup,
Kita sama-sama tahu
Jangan menangis (lagi), bumiku…
Semoga ini menjadi tangisan terakhirmu
28 Oktober 2010,
Di bawah kaki langit negeriku yang sedang bersedih
M-A-Y